Batik
identik dengan alat-alat seperti canting, kompor dan wajan. Dalam
aplikasinya pembuatan batik saat mulai menempelkan malam/lilin batik
dengan menggunakan cantik, pembatik perlu memiliki keahlian khusus dalam
mengatur suhu dari malam/lilin yang dipanaskan dalam wajan di atas
kompor sumbu sehingga seringkali pembatik sedikit banyak akan menaikkan
dan menurunkan tinggi sumbu pada kompor untuk menghasilkan panas yang
cukup dalam menghasilkan pola batik yang bagus. Terutama bagi pemula,
langkah ini dirasa cukup sulit, disamping belum ahli dalam mencanting
ditambah dengan kesulitan mengatur panas suhu yang pas untuk
malam/lilinnya.
Balai
Besar Kerajinan dan Batik yang bernaung di bawah Kementerian
Perindustrian RI sebagai lembaga yang khusus menangani batik mencoba
melakukan inovasi baru untuk memberikan sentuhan teknologi dalam
mengatasi permasalahan di atas. Dengan memanfaatkan ruang permesinan
mulailah dicari solusi yang tepat untuk mengkondisikan panas yang cukup
untuk memanaskan malam/lilin pada suhu yang diperlukan untuk
menghasilkan cairan malam/lilin yang tidak terlalu mentah ataupun masak
alias sedang sedang saja. Akhirnya didapatnya kompor listrik dengan
desain kompor dan wajan dalam 1 unit sehingga memudahkan pembatik dalam
melakukan proses mencanting tanpa harus repot-repot menaik-turunkan
sumbu yang biasanya dilakukan pada kompor sumbu.
Dengan
inovasi tersebut diharapkan pembatikan di Indonesia semakin mudah
diterapkan dan dapat meningkatkan produktivitas serta dapat lebih
mengefisienkan biaya produksi dengan semakin mahalnya minyak tanah
sebagai bahan pada kompor sumbu. Kompor tersebut memiliki voltase 220
volt dan aplikasinya sama dengan alat setrika yang bekerja secara
otomotis dalam mengatur suhu/panas yang ada. Untuk mendapatkannya dapat
langsung memesannya secara langsung ke Balai Besar Kerajinan dan Batik
dengan harga Rp. 175.000,- dan Rp. 225.000,-.
